Penyakit Kulit Kelamin raja singa

Banyak dari penduduk Indonesia yang terkena penyakit raja singa.Sebenarnya apa arti penyakit kulit kelamin raja singa ?

 

Penyakit kulit kelamin raja singa adalahsalah satu penyakit berbahaya. raja singa mempunyai sejarah panjang. Kaum gay dan homoseksual memiliki risiko besar terjangkiti penyakit kulit kelamin ini. Apa dan bagaimana raja singa sebenarnya? Berikut uraian penyakit yang punya nama lain raja singa tersebut.

 

BACA JUGA

"PENGERTIAN PENYAKIT SIFILIS DAN PENYEBABNYA"

"OBAT SIFILIS NATURAL"

"OBAT SIFILIS MUJARAB BAGI LELAKI"

 

Asal Muasal raja singa

 

Konon, nama raja singa berasal dari sebuah sajak bernama sama yang ditulis oleh Fracastoro pada 1530. Fracastoro adalah dokter yang pernah hidup di Verona, Italia. Sajaknya berkisah atas penggembala babi bernama raja singa yang dikutuk oleh Dewa Apollo. indikasi-indikasi penyakit tersebut sangat mirip dengan indikasi suatu penyakit yang tengah melanda Italia pada masa itu sehingga orang awam menamakan penyakit tersebut raja singa.

 

Ada dugaan bahwa para awak Columbuslah yang membawa penyakit kulit kelamin raja singa masuk ke Eropa. Sejumlah ahli di Kanada serta Amerika Serikat melakukan anilisis dan penelitian dengan mencermati sejarah evolusioner kuman penyebab penyakit kulit kelamin raja singa dengan metode genetika molekular.

 

Sejumlah kasus epidemik penyakit kulit kelamin raja singa pertama timbul di Eropa pada 1495 ataupun dua tahun setelah ekspedisi Columbus mengarungi Samudera Atlantik berakhir. Penyakit kulit kelamin raja singa tersebut menjangkiti sebagian besar pasukan Prancis. Namun, dugaan itu masih diperdebatkan dan belum menemukan titik terang.

 

Penyebab raja singa

 

Penyebab raja singa adalah kuman dari famili spirochaetaceae bernama treponema 9. Ukurannya sangat kecil dan memiliki kemampuan hidup serta berkembang biak di hampir setiap bagian badan manusia. kuman tersebut bisa pindah dari orang yang telah terjangkit kuman ke orang sehat karena hubungan seksual berlainan jenis (heteroseksual) serta hubungan sesama jenis (homoseksual) juga oral kelamin.

 

Ibu yang mengidap raja singa juga bisa menularkan raja singa pada janinnya. Namun, Anda tidak perlu khawatir karena raja singa tidak akan menyebar dari handuk, kloset, dan pegangan pintu yang dipakai pengidap raja singa.

 

indikasi raja singa

 

indikasi-indikasi yang timbul jika terkena penyakit ini adalah benjolan-benjolan di sekitar alat kelamin. Timbulnya benjolan kerap pula disertai pusing-pusing dan rasa nyeri pada tulang, mirip bagai indikasi flu. Anehnya, indikasi-indikasi yang timbul ini bisa menghilang dengan sendirinya tanpa pengobatan.

 

raja singa bisa dikatakan sebagai musuh pada selimut karena selama jangka waktu 2-3 tahun pertama tidak akan menampakkan indikasi mengkhawatirkan. Namun, setelah 5-10, raja singa baru akan memperlihatkan keganasannya dengan menyerang sistem saraf, pembuluh darah, dan jantung.

 

Cara Pengobatan

 

Antibiotik bisa menghentikan aktivitas kuman penyebab penyakit kulit kelamin raja singa. Namun, penggunaannya harus berdasarkan resep dokter. Maka dari itu, ketika indikasi raja singa timbul, ada baiknya keluarga ataupun pengidap langsung memeriksakan diri ke rumah sakit ataupun klinik dokter kulit dan kelamin agar menbisa pengobatan lebih maksimal.

 

Pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan. Tidak melakukan hubungan kelamin bebas, apalagi hubungan kelamin sesama jenis. Bagi para homoseksual, meskipun tidak melakukan hubungan kelamin, oral kelamin juga berisiko besar untuk menularkan penyakit kulit kelamin ini.

 

Infeksi Menular seksual (IMS) menyebar cukup mengkhawatirkan di Indonesia. Baik jenis gonorchea maupun raja singa. raja singa adalah penyakit kelamin menular yang disebabkan oleh kuman spiroseta, Treponema pallidum. Penularan biasanya melalui kontak seksual; tenamun, ada beberapa contoh lain bagai kontak langsung dan kongenital raja singa (penularan melalui ibu ke buah hati pada uterus).

 

indikasi dan ciri dari raja singa banyak dan berlainan; sebelum perkembangan tes serologikal, diagnosis rumit dilakukan dan penyakit ini kerap disebut “Peniru Besar” karena kerap dikira penyakit lainnya. Data yang dilansir Departemen Kesehatan menunjukkan pengidap raja singa mencapai 5.000 – 10.000 kasus per tahun. Sementara di Cina, laporan menunjukkan jumlah kasus yang dilaporkan naik dari 0,2 per 100.000 jiwa pada tahun 1993 menjadi 5,7 kasus per 100.000 jiwa pada tahun 2005. Di Amerika Serikat, dilaporkan sekitar 36.000 kasus raja singa tiap tahunnya, dan angka sebenarnya diperkiran lebih tinggi. Sekitar tiga per lima kasus terjadi kepada lelaki.

 

Bila tidak terawat, raja singa bisa menjadikan efek serius bagai kerusakan sistem saraf, jantung, ataupun otak. raja singa yang tak terawat bisa berakibat fatal. Orang yang memiliki kemungkinan terkena raja singa ataupun menemukan pasangan kelamin-nya mungkin terkena raja singa dianjurkan untuk segera menemui dokter secepat mungkin.

 

Ciri-ciri

Kuman penyebabnya disebut Treponema pallidum. Masa tanpa indikasi berlangsung 3-4 minggu, kadang-kadang sampai 13 minggu. Kemudian timbul benjolan di sekitar alat kelamin. Kadang-kadang disertai pusing-pusing dan nyeri tulang bagai flu, yang akan hilang sendiri tanpa diobati. Ada bercak kemerahan pada badan sekitar 6-12 minggu setelah hubungan kelamin. indikasi ini akan hilang dengan sendirinya dan kerapkali pengidap tidak memperhatikan hal ini.

 

Selama 2-3 tahun pertama penyakit ini tidak menunjukkan indikasi apa-apa, ataupun disebut masa laten. Setelah 5-10 tahun penyakit raja singa akan menyerang susunan syaraf otak, pembuluh darah dan jantung. Pada perempuan hamil raja singa bisa ditularkan kepada bayi yang dikandungnya dan bisa lahir dengan kerusakan kulit, hati, limpa dan keterbelakangan mental.

 

Ciri Pada Wanita dan Pria

Namun demikian bagaimana penyakit raja singa ini sesungguhnya? Mungkin sedikit uraian berikut ini bisa membantu Anda.

 

raja singa ataupun yang disebut dengan ‘raja singa’ disebabkan oleh sejenis kuman yang bernama treponema pallidum. kuman yang berasal dari famili spirochaetaceae ini, memiliki ukuran yang sangat kecil dan bisa hidup hampir di seluruh bagian badan. Spirochaeta penyebab raja singa bisa ditularkan dari satu orang ke orang yang lain melalui hubungan genito-genital (kelamin-kelamin) maupun oro-genital (kelamin oral). Infeksi ini juga bisa ditularkan oleh seorang ibu kepada bayinya selama masa kehamilan. Anda tidak bisa tertular oleh raja singa dari handuk, pegangan pintu ataupun tempat duduk WC.

 

Gambaran atas penyakit raja singa bagai yang dikemukakan tersebut mungkin masih membuat Anda penasaran, karena wanita yang tidak tahu jikalau suaminya kerap ‘jajan‘ mungkin tidak menyadari jikalau dirinya sudah mengidap penyakit raja singa.

 

Jadi uraian selanjutnya adalah mengenali indikasi yang mungkin terjadi pada wanita, yang terurai pada empat stadium berbeda.

 

Stadium satu. Stadium ini dicirii oleh timbulnya luka yang kemerahan dan basah di daerah vagina, poros usus ataupun mulut. Luka ini disebut dengan chancre, dan timbul di tempat spirochaeta masuk ke badan seseorang untuk pertama kalinya. Pembengkakan kelenjar getah bening juga ditemukan selama stadium ini. Setelah beberapa minggu, chancre tersebut akan menghilang. Stadium ini adalahstadium yang sangat menular.

 

Stadium dua. jikalau raja singa stadium satu tidak diobati, biasanya para pengidap akan mengalami ruam, khususnya di telapak kaki dan tangan. Mereka juga bisa menemukan adanya luka-luka di bibir, mulut, tenggorokan, vagina dan dubur. indikasi-indikasi yang mirip dengan flu, bagai demam dan pegal-pegal, mungkin juga dialami pada stadium ini. Stadium ini biasanya berlangsung selama satu sampai dua minggu.

 

Stadium tiga. jikalau raja singa stadium dua masih juga belum diobati, para pengidapnya akan mengalami apa yang disebut dengan raja singa laten. Hal ini berarti bahwa semua indikasi penyakit akan menghilang, namun penyakit tersebut sesungguhnya masih bersarang pada badan, dan kuman penyebabnya pun masih bergerak di seluruh badan. raja singa laten ini bisa berlangsung hingga bertahun-tahun lamanya.

 

Stadium empat. Penyakit ini akhirnya dikenal sebagai raja singa tersier. Pada stadium ini, spirochaeta telah menyebar ke seluruh badan dan bisa merusak otak, jantung, batang otak dan tulang.

 

Sedangkan pada lelaki yang telah tertular oleh raja singa memiliki indikasi-indikasi yang mirip dengan apa yang dialami oleh seorang pengidap wanita. Perbedaan utamanya ialah bahwa pada tahap pertama, chancre tersebut akan timbul di daerah penis. Dan pada tahap kedua, akan timbul luka-luka di daerah penis, mulut, tenggorokan dan dubur.

 

Orang yang telah tertular oleh spirochaeta penyebab raja singa bisa menemukan adanya chancre setelah tiga hari – tiga bulan kuman tersebut masuk ke pada badan. jikalau raja singa stadium satu ini tidak diobati, tahap kedua penyakit ini bisa timbul kapan saja, mulai dari tiga sampai enam minggu setelah timbulnya chancre.

 

raja singa bisa mempertinggi risiko terjangkit HIV. Hal ini dikarenakan oleh lebih mudahnya virus HIV masuk ke pada badan seseorang bila terbisa luka. raja singa yang diderita juga akan sangat membahayakan kesehatan seseorang bila tidak diobati. Baik pada pengidap lelaki maupun wanita, spirochaeta bisa menyebar ke seluruh badan dan menjadikan rusaknya organ-organ vital yang sebagian besar tidak bisa dipulihkan. raja singa pada ibu hamil yang tidak diobati, juga bisa menjadikan terjadinya cacat lahir primer pada bayi yang ia kandung.

 

Pengobatan

raja singa bisa dirawat dengan penisilin ataupun antibiotik lainnya. Menurut statistik, perawatan dengan pil kurang efektif dibanding perawatan lainnya, karena penderita biasanya tidak menyelesaikan pengobatannya. Cara terlama dan masih efektif adalah dengan penyuntikan procaine penisilin di setiap pantat (procaine diikutkan untuk mengurangi rasa sakit); dosis harus diberikan setengah di setiap pantat karena bila dijadikan satu dosis akan menjadikan rasa sakit. Cara lain adalah memberikan kapsul azithromycin lewat mulut (memiliki durasi yang lama) dan harus diamati. Cara ini mungkin gagal karena ada beberapa jenis raja singa kebal terhadap azithromycin dan sekitar 10% kasus terjadi pada tahun 2004. Perawatan lain kurang efektif karena penderita diharuskan memakan pil beberapa kali per hari.

 

Perawat kesehatan profesional mengusulkan kelamin aman dilakukan dengan memakai kondom bila melakukan aktivitas kelamin, namun tidak bisa menjamin sebagai penjaga yang pasti. Usul terbaik adalah pencegahan aktivitas seksual dengan orang yang memiliki penyakit kelamin menular dan dengan orang berstatus penyakit negatif.

 

kelamin Oral dan raja singa

Banyak orang salah meyakini. Mereka pikir kelamin oral aman. Padahal, hubungan kelamin dengan cara ini sudah terbukti bisa menularkan penyakit raja singa. Begitu laporan yang disiarkan Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDCP) pada Morbidity and Mortality Weekly Report. Ditambahkan, luka di mulut akibat raja singa, pada gilirannya semakin meningkatkan risiko terkena infeksi HIV.

 

“Mereka yang pada jangka panjang tidak terikat hubungan monogami dan melakukan hubungan kelamin oral, sebaiknya tetap memakai pelindung, semisal kondom, untuk mengurangi risiko terkena penyakit seksual menular,” kata tim peneliti dari Chicago Department of Public Health yang dipimpin oleh Dr. C. Ciesielski.

 

pada pemantauan yang mereka lakukan, tim itu menbisai bahwa raja singa terus menyebar lewat kelamin oral. Pola penularan yang mereka pantau sangat berubah pada periode tahun 1998 hingga 2002. Bila di tahun 1990-an raja singa hanya terjadi pada kaum heteroseksual, sejak 2001 jumlah pria yang melakukan hubungan kelamin dengan sesama pria tercatat hampir 60 persen.

 

Antara tahun 2000 hingga 2002 tim yang dipimpin Ciesielski juga mewawancarai mereka yang terkena raja singa. Hasilnya, lebih dari 14 persen kasus penularan raja singa terjadi melalui kelamin oral. Jumlah ini dlaporkan oleh 20 persen gay dan 7 persen pria dan wanita heteroseksual.

 

Angka itu belum termasuk penularan melalui kelamin oral yang mungkin terjadi pada saat yang bersangkutan juga melakukan hubungan badan. Bahayanya, orang dengan raja singa di mulut mungkin tidak memperlihatkan indikasi. Luka di mulut lazim disalahmengerti sebagai sariawan ataupun herpes. Padahal, di pada luka itu tersembunyi kuman penyebab raja singa.

 

Semua data ini menggarisbawahi perlunya edukasi pada mereka yang aktif secara seksual untuk menghindari raja singa.

 

Write a comment

Comments: 0